Jepang
Negara Jepang memiliki praktik baik terkait penanganan stunting yang pernah melanda lebih dari separuh warga negeri “matahari terbit”.
Dalam kondisi perang, pasokan makanan di banyak negara mengalami hambatan. Jepang menjadi salah satu negara yang cukup parah, dengan angka prevalensi stunting mencapai 60% pada awal abad ke-20.
Dalam sejarahnya, antara tahun 1948 hingga 1986 (40 tahun) Jepang berupaya keras menurunkan stunting. Dalam rentang waktu tersebut, prevalensi stunting turun dari 50% menjadi 5,7% selama 40 tahun. Dengan program yang tepat, rata-rata tinggi badan warga Jepang naik antara 14,6 cm sampai 16 cm.
Meski memerlukan waktu yang panjang, namun langkah yang diambil Jepang sangat mengesankan, dengan cara merevolusi gizi dan melakukan perawatan bayi-bayi dengan tepat.
Untuk mengurai problem stunting, Jepang menekankan pembangunan infrastruktur sanitasi dan praktik kebersihan yang lebih baik, serta perbaikan nutrisi. Bayi-bayi Jepang diharuskan mengonsumsi susu dan gizi tambahan. Upaya ini berhasil hingga angka stunting turun drastis ke level sangat rendah.
Selama puluhan tahun mengatasi stunting itu, negara “matahari terbit” menjadi cukup ahli. Jepang pada tahun 2017 membantu Uganda mengatasi masalah yang sama. Melalui World Food Programme, pemerintahan Yoshihiko Noda mengirim 1.700 metrik ton nutrisi untuk anak-anak berusia 6-23 bulan, ibu hamil, dan ibu menyusui di Karamoja, Uganda.
Pasokan bernilai US$2,5 juta itu bentuknya super sereal dan super sereal plus serta minyak nabati yang diperkaya vitamin dan gizi. Sasaran utamanya adalah bayi-bayi berusia nol sampai seribu hari. Menurut studi, anak-anak yang gagal tumbuh pada seribu hari pertama kehidupan tak akan mampu menebusnya pada waktu-waktu setelah itu, meskipun gizinya tercukupi.
Peru
Peru yang mampu menurunkan angka prevalensi hingga 4,25 persen per tahun. Pada penanganan kekerdilan baduta di daratan Amazon di Peru, pemerintah terus melakukan intervensi dengan fokus pada keluarga miskin.
Dalam kurun waktu tahun 2007 sampai 2016, Peru mampu menurunkan angka prevalensi stunting sebesar 15% yaitu dari angka prevalensi 29% menjadi 13%. Pemerintah Peru memiliki komitmen yang tinggi dan memiliki dukungan yang kuat dari NGO dan komunitas lainnya sehingga berhasil dalam penurunan stunting.
Pemerintahnya juga membuat sebuah skema insentif finansial yang diberikan kepada para ibu untuk memeriksakan tumbuh kembang anak ke fasilitas kesehatan.
Kesejahteraan bagi ibu dan anak dalam mengakses sanitasi yang bersih, juga dijalankan melalui program Water Sanitation and Hygiene (WASH). Bahkan negara memberikan dukungan psikososial terhadap tumbuh kembang baduta.
Bolivia
Negara Bolivia justru fokus meminta ibu untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayinya secara rutin, juga memiliki makanan pendamping ASI (MP ASI) yang sudah terfortifikasi.
Selain turut memperkuat program WASH, Bolivia memiliki mendirikan pertanian keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan sayuran serta protein bagi ibu dan anak. Membuat negara tersebut mampu menurunkan angka prevalensi sebanyak 2,5 persen per tahun.
Korea Utara
Dikarenakan kekerdilan erat kaitannya dengan konsumsi protein hewani, Indonesia bisa meniru Korea Utara yang menginisiasi adanya kegiatan konsumsi protein hewani satu telur per hari.
Korea Utara juga melakukan outreach melalui pemberian vitamin A, obat cacing dan bubuk vitamin taburia pada ibu yang memiliki bayi usia 6-23 bulan dua kali per tahunnya.
Posisinya mereka di tahun 2017 sudah 19,1 persen dan pada tataran ini, mereka sudah bisa mengendalikan karena sudah di bawah 20 persen angkanya. Rata-rata turun 1,78 persen per tahun di antara 2012 dan 2017.